Surabaya, enews — PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) mencatatkan kinerja operasional yang solid sepanjang September 2026. Total arus peti kemas internasional dan domestik yang dilayani anak perusahaan Pelindo ini mencapai 122.876 TEUs, dengan kontribusi terbesar didorong oleh aktivitas ekspor.
Capaian tersebut menegaskan posisi TPS sebagai gerbang logistik utama di Kawasan Timur Indonesia yang tetap tangguh di tengah dinamika perdagangan global. Dari total angka tersebut, arus peti kemas internasional mendominasi dengan volume sebesar 120.725 TEUs.
Direktur Utama TPS, Ali Sodikin, menyatakan bahwa stabilnya volume peti kemas pada September 2026 mencerminkan tingginya kepercayaan para pengguna jasa terhadap efisiensi dan keandalan layanan operasional terminal.
”Dominasi arus ekspor dibandingkan impor menjadi indikasi positif bahwa aktivitas perdagangan internasional kita masih bergerak dinamis. TPS berkomitmen untuk terus meningkatkan produktivitas operasional serta memperkuat perannya dalam mendukung kelancaran logistik nasional,” ujar Ali dalam keterangan resminya, Sabtu (10/10/2026).
Produktivitas Lampaui Target Kementerian Perhubungan
Di sisi operasional, TPS mencatatkan efisiensi tinggi dalam penanganan bongkar muat kapal. Sepanjang September 2026, produktivitas Box Ship Hour (BSH) pada layanan internasional mencapai rata-rata 51 box/ship/hour.
Angka tersebut melampaui standar minimum yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak, yakni sebesar 48 box/ship/hour. Kinerja positif ini tercapai berkat pemanduan operasional yang terintegrasi serta optimalisasi keandalan peralatan pelabuhan.
Selama periode yang sama, TPS melayani sebanyak 87 kunjungan kapal internasional. Meski arus barang terbilang padat, pengelolaan Yard Occupancy Ratio (YOR) atau tingkat penggunaan lapangan penumpukan internasional tetap terjaga aman di bawah 40 persen, yakni 36,48 persen untuk area ekspor dan 39,29 persen untuk area impor.
Modernisasi Alat Ramah Lingkungan
Keberhasilan mempertahankan produktivitas tinggi ini tidak lepas dari langkah modernisasi sarana operasional berbasis listrik (eco-friendly port). TPS terus mengoptimalkan pemanfaatan alat berat modern, seperti Electric Quay Container Crane (E-QCC) dan Electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG).
Penerapan teknologi berbasis listrik ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang TPS dalam mempercepat arus keluar-masuk barang, memangkas waktu inap (dwelling time), sekaligus mengurangi emisi karbon di area pelabuhan. Langkah ini diharapkan terus menopang ketahanan rantai pasok nasional secara berkelanjutan. (Armand)